Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk yang beragama, terbukti dengan diakuinya 6 agama di Indonesia, Islam, Kristen Katholik, Kristen Protestan, Buddha, Hindu dan Khonghucu. Di samping agama-agama tersebut, masih terdapat pula kepercayaan-kepercayaan lain, misalnya animisme dan dinamisme yang tumbuh pada daerah pedalaman yang terpencil.

Masyarakat selalu melibatkan kepercayaannya dalam kehidupan sehari-hari pada tingkat kebudayaan yang masih rendah sekalipun mereka telah memiliki suatu kepercayaan, artinya agama telah menjadi sebuah fenomena universal yang tidak memandang suatu tempat, waktu dan budaya. Sebagai contoh sederhana adalah penggunaan simbol, lambang atau atribut agama tertentu. Pada tingkatan yang lebih tinggi adalah dengan menyatunya sebuah agama pada sistem tertentu sehingga peranan agama pada masyarakat menjadi semakin penting, contohnya adalah pada negara yang berlandaskan agama, hukum dan peraturan yang berlaku berlandaskan atas ajaran agama tersebut. Keberadaan agama telah menjadi sebuah kebutuhan spiritual bagi masyarakat dalam mencari ketenangan batiniah.

Agama sangat baik sekali dalam hal pembinaan masyarakat untuk menuju pada kesejahteraan dan sekaligus nurani masyarakat itu sendiri. Salah satu alasan mengapa demikian adalah pertama, agama mengajarkan nilai-nilai yang benar dan baik bagi umatnya. Agama memoles umatnya untuk menjadi individu-induvidu yang baik dan menjauhkannya dari segala sesuatu yang bertentangan dengan ajaran agamanya. Kedua, agama mengajarkan cara-cara untuk memperoleh tempat yang indah di akhirat nanti sebagai tujuan akhir kehidupan. Cara-cara ini berintikan pada pelaksanaan ajaran agama masing-masing dengan sungguh-sunguh. Orang yang melaksanakan dengan baik akan memperoleh tempat yang bernama surga, sedangkan orang yang tidak melaksanakannya akan memperoleh tempat yang berkebalikan dengan surga yaitu neraka. Ketiga, agama yang berfokus pada ajaran cinta kasih mengajak umatnya untuk mengasihi sesamanya sehingga antar sesama dapat saling menghargai dan saling menolong melalui institusi masing-masing yang senantiasa mempunyai kegiatan-kegiatan sosial. Keempat, secara tidak langsung agama mendorong terciptanya perdamaian di muka bumi yang terdiri atas masyarakat yang majemuk melalui ajaran-ajaran tersebut.

Namun demikian agama juga dapat menimbulkan efek yang negatif dalam hal bermasyarakat, terutama pada masyarkat yang majemuk. Pertama, agama memiliki dan mengajarkan hal-hal yang bersifat eksklusif dan berbeda untuk agama yang berbeda pula. Hal ini dapat mengakibatkan terjadinya perbedaan pandangan terhadap masalah-masalah tertentu yang dapat bergesekan. Kedua, agama memiliki ambisi berupa misi untuk menyebarkan ajarannya seluas-luasnya. Hal ini tidak dapat dipungkiri, namun demikian pada masyarakat yang telah beragama seolah-olah timbul pandangan yang menyatakan terjadinya perebutan umat atas agama tertentu. Ketiga, dalam internal agama itu sendiri terkadang terjadi suatu perbedaan pandangan ataupun tafsir terhadap ajarannya sehingga muncul aliran-aliran baru dalam agama tersebut. Hal ini tentu dapat menimbulkan kebingungan bagi masyarakat yang haus akan berita kebenaran. Perbedaan cara pandang juga dapat menimbulkan kaum ekstremis pada agama tersebut yang mengkibatkan fanatisme sempit dan penguncian diri terhadap pandangan lain. Keeempat, agama memiliki potensi untuk menimbulkan suatu konflik. Ketiga hal yang telah disebutkan sebelumnya dapat menimbulkan konflik internal maupun eksternal yang akhirnya dapat merugikan masyarakat itu sendiri.